Petugas Disebut Tangkap 10 Pemuda dalam Palembang Tanpa Sebab

News

Petugas Disebut Tangkap 10 Pemuda dalam Palembang Tanpa Sebab

Palembang, CNN Indonesia —

Tim advokasi Aliansi Mahasiswa & Pemuda untuk Rakyat (Ampera) Sumatera Selatan memberikan pendampingan hukum pada tujuh orang pemuda di Markas Polrestabes Palembang . Mereka merupakan objek penangkapan tanpa sebab yang dilakukan aparat pada saat demo penolakan  Omnibus Law UU Cipta Kegiatan di Palembang, Rabu (7/10).

Tim advokasi Ampera Sumsel Yogi Suryo Prayogi mengatakan 10 pemuda tersebut saat ditangkap cukup menonton unjuk rasa di medan Gedung DPRD Sumsel. Petugas men mereka dan menanyakan identitas. Tetapi karena mereka tidak bisa membuktikan identitas, polisi pun akhirnya menangkap mereka.

Hingga kini, para korban interpretasi tanpa alasan tersebut masih berkecukupan di Mapolrestabes Palembang.


“Padahal seharusnya tidak boleh. Kalau SOP polisi pada saat peristiwa kita tidak tahu, namun bersandarkan KUHAP itu tidak boleh. Apalagi mereka belum melakukan apa-apa. Di dalam waktu 1×24 jam tidak tersedia bukti untuk menuntut mereka menyelenggarakan pidana apa, itu harus dilepas. Tapi ini sudah tiga malam mereka tidak juga dilepas, ” ujar Yogi, Jumat (9/10).

Saat ini tim pembelaan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Jaringan Advokat Palembang, dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumsel masih berada di Mapolrestabes Palembang untuk mendampingi para korban. Dirinya mengungkapkan, masih ada ratusan pemuda lain yang ditahan yang belum masuk daftar advokasi mereka.

Yogi mengungkapkan, para pemuda tersebut ditempatkan di ruangan dengan berbeda-beda karena kurangnya kapasitas dalam Mapolrestabes Palembang. Polisi pun tampak kewalahan memproses para pemuda yang ditangkap ini karena tidak semua melakukan tindak pidana. Para muda tersebut harus mengisi surat maklumat yang didampingi oleh penanggung pikiran, baik itu kuasa hukum atau keluarga, sebelum bisa bebas.

Semalam, kepolisian telah membebaskan 174 dari mutlak 499 orang yang ditangkap semasa aksi tiga hari di Palembang. Kebanyakan dari para pemuda dengan belum dibebaskan belum didampingi oleh keluarga dan masih menunggu diproses oleh kepolisian.

“Polisi kewalahan memprosesnya, padahal tidak seluruh orang disini ditangkap karena melakukan rusuh atau ikut aksi. Budak muda yang hanya menonton atau kebetulan berada di lokasi serupa ada. Aneh juga polisi menangkap tapi akhirnya kewalahan memproses, ” kata dia.

Yogi berujar isi pernyataan para tanggungan pemuda yang ditangkap tersebut berisi lima poin. Inti dari tulisan pernyataan yang harus dilampirkan dengan kartu keluarga tersebut berisi pemberitahuan untuk membina anak, janji tak lagi terlibat aksi unjuk menikmati, dan kesediaan untuk diproses secara hukum bila ikut terlibat di dalam aksi unjuk rasa kembali.

“Padahal tidak semua dengan ditangkap terlibat aksi, ini yang akan kami protes. Akan ana layangkan surat ke beberapa badan seperti Komnas HAM karena telah jelas penangkapan tanpa alasan jelas ini melanggar HAM. Apalagi biasa dari mereka masih anak pada bawah umur, ” kata Pendeta.

Saat ini pihaknya masih mengupayakan untuk membebaskan 10 orang yang diadvokasi untuk bisa bebas malam tersebut. Pihaknya pun mengimbau kepada tanggungan yang kehilangan anaknya pada lagak unjuk rasa di Palembang buat melaporkan kepada tim advokasi.

“Kita sebar hotline melalui whatsapp grup aksi. Jangan ragu untuk melapor karena tim pembelaan akan membantu untuk membebaskan kawan-kawan yang ditangkap oleh aparat, ” kata dia.

(idz/pmg)

[Gambas:Video CNN]