PDI-P Nilai Sumbar Tak Dikuasai karena Peta Politik Pusat

News

PDI-P Nilai Sumbar Tak Dikuasai karena Peta Politik Pusat

Medan, CNN Indonesia —

PDI-P   Sumatera Barat ( Sumbar ) menanggapi hasil survei Spektrum Politika tentang persepsi masyarakat di provinsi itu terhadap partai tersebut. Sebelumnya, lembaga survei tersebut mengumumkan tujuh penyebab PDI-P tidak mampu mengabuk Sumbar.

Menurut Pemimpin DPD PDI-P Sumbar Alex Indra Lukman, ketidakmampuan partainya untuk menghaki Sumbar dipengaruhi oleh peta perpolitikan di pusat. Ia menjelaskan semangat wacana perpolitikan di Sumbar  tak bisa dilepaskan dari pertarungan gagasan para elit di level nasional. Bandul preferensi pilihan politik urang awak bergeser seiring polarisasi elit di antara kubu yang berhadap-hadapan.

“Politik urang jasad tidak lokal. Dalam wacana politik, bingkai wacana orang Minang tersebut berada dalam konstelasi nasional. Sebab karena itu, peta perpolitikan dalam pusat berpengaruh besar terhadap alternatif politik orang Minang, ” perkataan Alex, Selasa (13/10).


Survei Spektrum Politika mengungkap tujuh faktor yang mendatangkan PDI-P tak mendapatkan dukungan suntuk di Sumbar. Mula-mula , lemahnya komunikasi politik pilihan PDI-P. Kedua , lemahnya figur di PDI-P dalam Sumbar. Ketiga , aktivitas politik PDI-P tak sebati dengan keyakinan politik masyarakat.

Keempat , arogansi elite PDI-P di pusat. Kelima , dominasi elite PDI-P di pemerintah. Keenam , gagasan, sikap, & perilaku elite PDI-P di tingkat pusat yang bermasalah. Ketujuh , menghargai pluralisme, namun mengabaikan Islam.

Menurut Alex, dialektika politik orang Minang sejak sebelum kemerdekaan hingga kini telah membuktikan premis preferensi politik orang Minang bergantung pada elit di pusat.

“Kerasnya pertarungan kubu Islam dengan keluarga nasionalis di Pemilu 1955 terlihat jelas di Provinsi Sumatera Tengah yang di dalamnya terdapat Sumatera Barat saat ini. Pertarungan itu terus berlanjut hingga pemilu sesudah reformasi 1998. Pemenang Pemilu pada Sumbar ini selalu berganti setiap pemilunya, ” tuturnya.

Pada periode 1955, kata Alex, pertarungan ideologi parpol-parpol di Indonesia, yaitu nasionalis, komunis, dan Islam, bahkan merasuk jauh dalam kehidupan masyarakat Minang. Ia mengatakan bahwa sejarah mencatat perbedaan ideologi itu terjadi hingga tingkat keluarga. Antara ayah, ibu & anak serta mamak (paman) di satu kaum sering terjadi memperlawankan pilihan politik.

“Membingkai ketidaktertarikan masyarakat Minang di zaman sekarang pada PDI Perjuangan secara mengabaikan historis sosiologis masyarakat tersebut sendiri tentunya suatu hal yang kurang lengkap, ” ucap Alex.

Spektrum Politika melayani survei itu pada 10-15 September 2020 di 19 daerah di Sumbar. Mereka mewawancarai 1. 220 responden sampel yang mereka pungut secara bertingkat ( multistage random sampling ).

Margin of error dari sampel tersebut 2, 9 persen. Untuk menjaga kualitas survei ini, quality control juga dikerjakan dengan cara menelpon ulang responden untuk mengkonfirmasi jawaban mereka sebelumnya, ” ucap Andri.

Spektrum Politika mengadakan survei itu untuk mencari tahu faktor di balik rendahnya perolehan suara PDI-P di Sumbar pada Pemilu 2019, yang mengakibatkan tak ada kadernya dari provinsi ini di DPR. Padahal, pada periode sebelumnya PDI-P punya dua wakil dari Sumbar di DPR.

(adb/sfr)

[Gambas:Video CNN]